Sejak penerimaan siswa baru mulai memakai jarak rumah sebagai pertimbangan utama, perdebatan tidak pernah benar-benar reda. Sebagian melihatnya sebagai koreksi terhadap ketimpangan yang sudah lama dibiarkan. slot gacor Sebagian lain melihatnya sebagai hukuman bagi anak yang sudah belajar keras. Keduanya menyentuh bagian yang benar dari persoalan yang sama.
Masalah yang Ingin Diselesaikan
Sebelum zonasi, satu sekolah negeri di sebuah kota bisa menyerap hampir semua siswa dengan nilai tertinggi dari seluruh penjuru wilayah. Hasilnya adalah pemusatan. Sekolah itu punya siswa terbaik, guru yang berlomba mengajar di sana, alumni yang mapan, dan kegiatan yang serba lengkap.
Sekolah lain di kota yang sama menerima sisanya. Karena isinya siswa dengan nilai lebih rendah, rata-rata hasilnya rendah. Karena hasilnya rendah, orang tua menghindarinya. Karena dihindari, isinya semakin timpang. Lingkaran itu berjalan bertahun-tahun tanpa ada yang memutus.
Zonasi menyerang lingkaran ini dari titik masuknya. Kalau siswa berprestasi tersebar ke banyak sekolah, tidak ada lagi satu sekolah yang menyerap semuanya.
Yang Berubah dan Yang Tidak
Sebaran siswa memang berubah. Beberapa sekolah yang dulu sepi peminat mulai menerima siswa dengan latar kemampuan lebih beragam. Waktu tempuh sebagian anak juga memendek, dan itu bukan hal sepele karena perjalanan panjang setiap hari memakan energi dan waktu belajar.
Tapi ada yang tidak ikut berubah. Kualitas guru tidak berpindah otomatis mengikuti siswa. Laboratorium tidak tiba-tiba muncul di sekolah yang sebelumnya tidak punya. Perpustakaan tetap kosong kalau anggarannya tidak ditambah. Zonasi mengubah siapa yang duduk di ruang kelas, bukan apa yang tersedia di dalamnya.
Di sinilah sebagian kekecewaan lahir. Kebijakan ini sering dibicarakan seolah cukup berdiri sendiri, padahal ia hanya satu bagian dari pekerjaan yang jauh lebih besar.
Efek Samping yang Muncul di Lapangan
Beberapa persoalan baru ikut muncul. Yang paling sering dibicarakan adalah manipulasi alamat, mulai dari perpindahan kartu keluarga menjelang pendaftaran sampai penumpangan alamat pada kerabat yang tinggal dekat sekolah tujuan.
Ada pula masalah teknis pengukuran jarak. Titik koordinat yang dipakai kadang tidak mencerminkan rute nyata, sehingga rumah yang secara garis lurus terlihat dekat ternyata harus memutar jauh, atau sebaliknya.
Sebaran sekolah yang tidak merata juga menjadi persoalan tersendiri. Di beberapa wilayah, jumlah sekolah negeri memang tidak sebanding dengan jumlah anak usia sekolah, sehingga aturan jarak tidak menolong siapa pun yang tinggal di daerah kosong sekolah.
Kekhawatiran soal Siswa Berprestasi
Keberatan yang paling sering terdengar menyangkut anak dengan nilai tinggi yang tidak bisa masuk sekolah favorit karena rumahnya jauh. Kekhawatiran ini masuk akal secara emosional, terutama bagi keluarga yang sudah mengeluarkan banyak biaya bimbingan belajar.
Pertanyaan yang lebih dalam adalah seberapa besar sebenarnya sumbangan sekolah favorit terhadap hasil siswanya. Sebagian besar keunggulan hasil sekolah tersebut berasal dari kualitas siswa yang sudah tinggi sejak masuk, bukan dari nilai tambah yang diberikan sekolah selama tiga tahun. Sekolah yang menerima anak berkemampuan tinggi hampir pasti mengeluarkan lulusan berkemampuan tinggi, terlepas dari apa yang terjadi di dalamnya.
Penutup
Zonasi menyentuh persoalan nyata, yaitu penumpukan sumber daya dan reputasi di segelintir sekolah sementara sisanya dibiarkan tertinggal. Tapi kebijakan yang mengatur pintu masuk tidak bisa menutupi kesenjangan yang letaknya ada di dalam sekolah. Selama perbedaan mutu antar sekolah negeri di satu kota masih terasa sebesar sekarang, orang tua akan terus mencari cara untuk menembus batas wilayah, dan setiap tahun perdebatan yang sama akan berulang dengan kata-kata yang hampir identik.